Sabtu, pukul 09.35 malam aku masih menyelesaikan tugas kuliahku didepan Netbuk, berteman rintik hujan dan alunan kemayu musik-musik galau.
Sambil terkantuk-kantuk kutegapkan punggung dan tegarkan pandangan, “ Harus kelarr.. ” perintahku dalam hati dan pikiran yang setengah sadar.
Kepalaku cenat cenut, pandanganku kosong kearah monitor yang cahayanya silaukan pandangan. Dan akupun berfantasi dalam kemeriahan rintik hujan, lagu-lagu galau dan cahaya monitor yang tampakkan tugas-tugas yang belum kelar.. aku berfantasi tentang masa depan.
Semua terasa seolah kilas balik yang begitu nyata, bergetar dalam dadaku. Rambutku telah memutih, mantel bulu domba warna merah yang melekat ditubuh renta ini tak mampu menutupi rasa dingin yang menyergapku. Aku terduduk, terdiam dikursi goyang dipojok ruangan, ya.. ini adalah aku dimasa depan (mungkin).
Gelap, aku bersandar pada kegelapan.. Bukan ku menunggu mati hanya menantikan setitik cahaya yang tak kunjung tiba. Aku termenung dalam kesendirian yang menyesakkan tiap paru-paru ini berusaha bernafas.. Kubuka sebuah album foto bersarung kulit warna cokelat tua, begitu tebal dan lusuh disisi-sisinya. Lembar demi lembar kubuka dan ratapi ratusan memori yang ku dokumentasikan di usia mudaku.
Pipiku terasa hangat, basah merembes dari kedua bola mata yang kelopaknya berat untuk terangkat. Aku ingat sebuah kalimat yang pernah kubuat dahulu : “ Manusia adalah sekumpulan memori, yang ada maupun yang akan ada ”. Kini kumengerti, ada kebahagiaan yang tercipta ketika aku membuka memori-memori lama dari album tua ini dan sedikit imaginasi.
Aku ingat, kata-kata bijak yang pernah aku limpahkan kepada beberapa teman yang meminta nasehat.. Aku seneng mereka kini dapat hidup lebih ceria.
Aku ingat, ketika kedua kuping ini dipenuhi celoteh temen dan sanak family yang berkeluh kesah tentang kehidupan.. Aku seneng mereka kini lebih mampu menikmati kehidupan mereka.
Aku ingat, sebuah petualangan sederhana dengan beberapa sahabat. Hanya ada kami, kamera, sepeda/motor dan selembar gocengan tuk menempuh jarak dan panas matahari sepanjang hari.
Aku ingat, foto sepiring pete ini ingatkanku akan indahnya suasana Lebaran. Semua keluarga berkumpul. Canda tawa ria memenuhi ruang-ruang hati dan pikiran, lupakan segenap perselisihan yang lalu.. Kami saling mema’afkan.
Aku ingat, masa-masa sekolah itu.. Semua indah dan penuh semangat. Suntikkan vitamin-vitamin idealisme tuk mengubah kehidupan ini lebih baik, juga suntikkan angan dan cita-cita bahwa hidup itu manis walau keras.
Dan aku ingat, sebuah acara kecil yang meriah. Wajah-wajah yang tak asing bagiku, tawa dan canda yang selalu mengasyikkan, obrolan-obrolan yang tak berarah kala itu. Beberapa bergandengan tangan, entah halal atau haram yang jelas mereka adalah pasangan yang bahagia, aku tau.. aku liat dari mata mereka.
Tak lupa ketika sepasang wajah yang begitu akrab menghampiri, mengekor si gadis mungil yang pipinya kemerahan dibelakang mereka. Tatapannya bersinar penuh semangat dan tanda tanya, pada semua kemeriahan ini.
Ia bertanya kepadaku, sebuah pertanyaan yang terus terngiang dan menghantui jiwaku sampe detik ini.. di senja usiaku.
Ia bertanya dalam kepolosan “ Om koq sendirian? Gak sepi apah, papah mamah aja selalu berdua.. ”. Suara si kecil itu samar-samar menghilang dari telingaku. Aku terdiam..
Nafasku berat, serasa oksigen yang merasuki kerongkongan ini dipenuhi pecahan kaca dan remah besi. Bibir tuaku yang peccah-pecah dan kering berusaha tersenyum. Wajahku menatap langit-langit ruang, seolah menembus dan hadirkan suasana malam berbintang.
“ Banyak… banyak sekali hal yang belum bisa kujawab dalam hidupku yang singkat. Namun aku.. aku selalu punya jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebuah pertanyaan yang selalu datang disepanjang kehidupanku.. ”
“ Bukan.. bukan soal itu duhai bintang dan rembulan.. Bukan ”
“ Aku pernah sekali merasakan manisnya hubungan cinta, memiliki pasangan. Menorehkan janji-janji manis dalam tatapan yang mesra bersama dia.. ”
“ Namun ternyata kami gagal. Tidak!! Tapi akulah yang gagal membina cinta ini ”
“ Dan aku merasa belum berubah jadi sosok yang lebih baik lagi, aku masih sama dalam keburukan sikap dan lainnya.. ”
“ Aku gak mao berubah, karna bagiku.. diriku yang penuh keburukan ini adalah identitasku.. Sebuah karakter yang telah mengakar sepanjang kehidupanku ”
“ Jadi, aku takut.. memulai suatu hubungan yang baru.. Jika bersamanya saja gagal apalagi dengan wanita yang lain!! ”
“ Karena… Aku.. terlalu buruk untuk jadi seorang kekasih.. ”
“ Plakk!!! ”, kututup Netbukku segera setelah kembali ke alam sadar. Aku tersenyum kecut dan berharap semoga semua hanya khayal belaka..
Sekian by iKKi 01/07/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar